I miss you..

Pukul 5 lewat 10 menit. Matahari bahkan baru akan memulai mewarnai gelapnya langit. Masih terlalu pagi untuk bangun, terlebih ia baru bisa memejamkan matanya pada pukul 2 dini hari tadi, dan lagi ia terbebas dari jadwal apapun hari ini.

Chen menghela nafas. Tidak biasanya ia seperti ini, terbangun dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia merasakan sesuatu akan terjadi hari ini. Apakah ini yang orang bilang firasat? Apapun itu, hal tersebut sudah menghilangkan niatnya untuk melanjutkan tidur. Kantuknya sama sekali hilang, walaupun tubuhnya meronta ingin diistirahatkan.

Chen berjalan keluar kamar, berusaha tidak membangunkan teman sekamarnya, karena ia tahu di tengah jadwal padat seperti ini waktu tidur lebih berharga. EXO baru saja membuktikan pada dunia bahwa mereka adalah salah satu boy group yang patut diperhatikan. Album repackage ‘Growl’ mereka terjual lebih dari satu juta copy, menembus rekor yang belum pernah terpecahkan lagi selama 12 tahun, bahkan oleh sunbae dari managemen mereka. Dan akibat dari hal itu, diijinkan untuk tidur lebih lama adalah hal yang paling ingin didengar oleh semua member di pagi hari.

“Sepertinya ada yang salah dengan hari ini..” Chen mengambil air hangat, dan meminumnya.

“Apa yang salah dengan hari ini?”

“Kamjakiya! Ah, duizhang, kau mengagetkanku.. Bagaimana kalau aku punya penyakit jantung? Aku bisa langsung mati barusan.” gerutu Chen.

“Berlebihan. Kau tidak punya penyakit jantung, dan kau tidak akan mati. Lagi pula apa yang kau lakukan di dapur jam segini? Dan apa yang salah dengan hari ini?”

“Duizhang, kau ini bertanya atau merampokku huh?”

“Arra. Jelaskan padaku satu per satu.” Kris menjatuhkan tubuhnya di sofa terdekat, siap mendengarkan cerita Chen.

“Aku terbangun, sepertinya tadi aku memimpikan sesuatu, tapi aku tidak ingat apa itu, jadi aku ke dapur untuk minum dan kau diam-diam berdiri di belakangku.” jelas Chen.

“Karena ku pikir ada penyusup yang masuk ke dorm kita! Lalu apa yang salah dengan hari ini?”

“Mollayo hyung. Itu hanya semacam firasat?”

“Kurasa yang salah itu adalah kau, Jongdae. Tidurlah!” Kris melemparkan sebuah bantal pada Chen, kemudian bangkit dari duduknya. “Jangan berpikir macam-macam, istirahatlah.”

“Arraseo..” sahut Chen. “Duizhang!” panggilnya sebelum leader EXO-M itu masuk ke dalam kamarnya. “Bisakah temani aku berjalan-jalan nanti? Aku bosan.”

“Tidurlah dulu. Nanti akan kutemani.” Kemudian Kris menghilang di balik pintu kamarnya, meninggalkan Chen yang mau tidak mau harus memaksakan matanya untuk terlelap lagi.

***

“Hyung, bukankah itu Hyemi?” tanya Chen saat mereka berdua menunggu makanan yang mereka pesan disajikan. Satu jam berlalu sejak Chen dan Kris melangkahkan kakinya mengitari wilayah Hongdae. Beruntunglah hari itu hari senin, dan masih terbilang cukup pagi, jadi tidak banyak orang yang mengenali mereka, setidaknya tidak ada fans yang mengikuti mereka dan memotret diam-diam.

“Hyemi nugu?”

“Nae yeojachingu..”

“Eh? Aku tidak ingat kau punya kekasih.”

“Hyung, itu benar dia! Dia bersama temannya. Tapi jika itu memang dia, kenapa ia tidak bilang padaku jika ia juga berada di sini?”

“Kau bertanya padaku? Memangnya dia kekasihku? Tanyakan padanya!”

Chen berdiri, melangkahkan kakinya menuju meja dimana kekasihnya berada. Ada rasa kesal dalam hatinya. Bukankah mereka bisa menghabiskan waktu bersama jika kekasihnya itu mengatakan bahwa ia juga tidak mempunyai jadwal kuliah?

“Hyemi-a! Sedang apa kau disini?”

“Eh? Nuguseyo?”

“Mworago? Nuguseyo? Kau tidak kenal aku?” tanya Chen. Untung di restoran itu hanya dua meja yang terisi, meja Chen dan meja Hyemi.

“Ah! Arrayo! Chen oppa! Kyaaa~ Mimpi apa aku semalam Chen oppa mendatangi mejaku, bahkan tau namaku. Boleh aku minta tanda tangan?”

Chen geram. Apa-apaan kekasihnya ini? Gadis ini sudah berhubungan dengannya selama hampir 3 tahun dan sekarang berlagak seperti fansnya, apa tadi, ia meminta tanda tangannya di saat Chen sudah berjuta kali berselca, bahkan memeluknya?

“Apa-apaan kau ini?”

Rena, kakak  Hyemi yang baru kembali dari toilet menarik Chen menjauh dari meja mereka, membawanya kembali ke meja Kris. Kris yang tidak tau apa-apa semakin bingung dengan kembalinya Chen yang sedang emosi.

“Why? What’s wrong?” tanya Kris.

“Jongdae-a, tenanglah.. Hyemi sedang sakit.” ucap Rena.

“Sakit? Ia tidak terlihat sakit?”

“Seminggu yang lalu ia masuk rumah sakit, aku tidak begitu tau apa penyakitnya, yang ku tau tubuhnya sangat panas. Ia tidak sadarkan diri, dan baru bangun dua hari yang lalu. Dan begitulah kondisinya. Ia tidak ingat apapun tentangmu.”

“Mworago?” sahut Kris dan Chen kompak tanpa aba-aba.

“Iya, ia mengenaliku karena kami sudah bersama sejak kecil. Ia mengenali eomma dan appa. Tapi ia tidak mengenalimu. Hanya saja, saat melihat MV Growl diputar di televisi, ia menyukainya. Hyemi bahkan menjadi salah satu fansmu. Ia mengenalimu sebagai idolanya, bukan sebagai kekasihnya.” jelas Rena.

“Noona, kau sedang tidak bercanda kan?” tanya Chen.

“Ini bukan candid camera bukan?” tambah Kris.

“Aku serius. Kau boleh mencoba meyakinkannya, mencoba mengembalikan ingatannya jika kau mau.”

***

Setelah mendengar penjelasan dari Rena, disinilah Chen sekarang, di sebuah kedai es krim kecil bersama Hyemi, ditemani Rena. Kris mendadak harus pergi menjemput Luhan dan Tao. Ia berjanji akan menjemput Chen bila urusannya sudah selesai.

“Hyemi-a.. Apa kau benar-benar tidak ingat aku?”

“Hm? Aku ingat lagu-lagumu. MAMA… History… Wolf… Ah, aku paling suka Growl! Kau terlihat sangat keren di MV itu.” jelas Hyemi seperti fans sejati EXO. Rena hanya tersenyum melihat adiknya menjelaskan hal itu pada kekasihnya. Ia tau betapa frustasinya Chen saat ini.

“Hyemi-a.. Aku ini kekasihmu. Kita sudah berhubungan sejak aku masih trainee. Kau tidak ingat sama sekali?”

“Geotjimal! Jika kau kekasihku, maka Kyuhyun oppa adalah kekasih Rena eonnie!”

“Aku tidak bohong. Hyemi-a. Aku benar-benar kekasihmu. Kau pikir bagaimana aku bisa mengenalimu jika kau bukan kekasihku?”

“Oppa, berhenti bercanda. Ini tidak lucu. Bisa saja aku datang ke acara fansigning EXO dan mengatakan namaku. Bukankah besok EXO ada schedule? Pergilah, aku sedang tidak ingin diganggu.”

Chen mengacak rambutnya frustasi. Di hadapannya Rena hanya tersenyum pasrah, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Chen. Begitulah Hyemi, tidak bisa dipaksa. Akhirnya Chen pergi meninggalkan kedua kakak beradik itu untuk pulang ke dorm mereka.

***

Pukul 1 siang, Chen terbangun dari tidurnya. Kegelisahannya bertemu Hyemi tadi pagi membuat tidurnya sama sekali tidak nyenyak. Keringat membasahi tubuhnya walaupun AC di kamarnya sudah dinyalakan. Baekhyun yang baru masuk kamar dan menyadari Chen sedang berusaha melakukan sesuatu dengan ponselnya bermaksud ingin mengganggunya.

“Aigoo.. Akhirnya uri Jongdae bangun juga.” celotehnya.

“Baekhyun-a, aku bertemu Hyemi tadi pagi, di restoran tempat biasa kita bertemu dengannya. Dan kau tau, ia tidak mengenaliku. Ia sama sekali tidak mengenaliku, Byun Baekhyun! Apa yang harus ku lakukan?” Chen menjambak-jambak rambutnya frustasi.

Baekhyun yang mendengar perkataan Chen hanya bisa diam. Ia mematung, tidak berkata apapun. Bahkan niatnya untuk mengusili salah satu member Beagle Line ini sirna. Wajahnya pun berubah pucat pasi.

“Ya! Byun Baekhyun! Aku meminta pendapatmu! Kenapa kau hanya diam saja?” tuntut Chen.

“Jongdae-a.. Kau lupa?”

“Lupa apa?”

“Hyemi sudah tidak ada.. Ia sudah meninggal dua tahun yang lalu karena leukimia..”

Jantung Chen mencelos. Ia sama sekali tidak ingat. Ingatannya dibuat kabur. Jadi yang tadi itu hanya mimpi? Mimpi itu terlalu nyata. Firasat macam apa ini?

Baekhyun memeluk Chen erat, menenangkannya. “Berdoalah untuknya. Ia merindukanmu..”

***

Chen berdiri sambil menggenggam sebuket bunga tulip putih di tangan kanannya, bunga favorit Hyemi sepanjang masa. Ia pernah hujan-hujanan mencarikan bunga ini untuk Hyemi saat gadis itu marah padanya. Di hadapannya, nisan bertuliskan nama Kang Hyemi berdiri kokoh.

“Maaf, karena kesibukanku aku sedikit melupakanmu. Maaf, aku baru kembali kesini setelah enam bulan yang lalu. Maafkan aku, karena aku terlalu merindukanmu..”

Ia menaruh buket bunga tulip putih di depan nisan Hyemi, kemudian dalam diam, Chen pergi meninggalkan tempat itu. Kehilangan seseorang akan selalu menyakitkan. Terlebih jika bukan keinginan dari salah seorang, melainkan dipisahkan oleh Tuhan.

[tamat]


 

Happy reading, readers.. Please give me any comment. Thank you. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s